Renungan kematian

By in Info umum on June 29, 2015
Ingatlah mati

Ingatlah mati

Ya ALLAH….

Jika tiba saatnya malaikat maut menjemputku, cabutlah ruhku dengan naungan Kasih Sayang dan Maghfiroh-Mu
Sebab betapa dahsyatnya tekanan sakarotul maut itu, hingga Izroil memalingkan muka tak tega sewaktu ruh kekasihMu Muhammad saw dijemput.

Ya Arhamar-Rohimiin …….
jika kekasih-Mu Al-Musthofa merasakan betapa beratnya, apalagi aku?
Bagaimana lagi kami? hamba yang lebih banyak bergelimang dengan kelalaian, khilaf dan dosa, seringkali tertipu oleh fatamorgana dunia dalam menunaikan titah Mu
Padahal kami sadar… kami sadar dengan keyakinan yang mendalam
Dari setetes air hina kami diciptakan, lalu Engkau mulyakan dengan karunia Hidayah Mu yang Agung

Dalam keadaan telanjang, lemah-lunglai dan menangis tanpa daya saat kami dilahirkan dari perut ibunda, lalu Pertolongan dan limpahan Rizki Mu mengokohkan kami tumbuh dalam Pelukan Lembut Sunnatullah dan karuniaMu yang tak terhingga, setiap nafas yang kami hirup, setiap tetes air yang yang kami minum, setip bulir tumbuhan yang kami makan, serpihan daging yang kami cicipi, harmoni alam yang menawan, sehat yang kami nikmati

Tak terhitung…. tak terbayarkan mesti seumur hidup kami ruku dan sujud di haribaanMu
Genaplah sudah Curahan Rohman dan RohimMu Ya Allah………..
dengan menurunkan KitabMu yang Agung sehingga tak bingung kami melangkah
dengan mengutus nabi yang ma’shum Muhammad saw

Kemulyaan akhlaqnya, kelembutannya, kegigihannya, ketulusan pengorbanannya, keteladannya adalah purnama zaman yang menyibak kelam jahiliyah.
Tidak sepatutnya kami ingkar dengan semua karunia ini
Tidaklah pantas perintahMu kami abaikan Ya WAHHAB, setelah kami menerima nikmat yang melimpah ini.

Tiada guna kami merangkai seribu alasan tuk menghindar dari perintahMu Yang Agung: YA AYYUHALLADZIINA AAMANUU KUNU ANSHORULLAH, setelah kami melakukan transaksi dengan Mu:

INNALLAHSYTAROO MINAL MU’MINIINA ANFUSAHUM WA AMWAALAHUM BIANNA LAHUMUL JANNAH.
YA ALLAH…. YA MUMIIT…..!

Jika tiba saatnya, ketika ruhku dijemput, tubuhku terbujur kaku tak berdaya, mandi….. dimandikan.

Dibolak-balikan orang lain karena tiada lagi kuasa menggerakan setiap persendian
Dilucuti dari semua pakaian indah yang biasa dipakai sehari-hari, dalam setiap pertemuan terhormat ataupun kondangan
Hanya tiga atau lima helai kain kafan membungkus jasad
Diantara tangisan kesedihan anak isteri dan handai taulan, perlahan namun pasti jasad ini digotong menuju pembaringan terakhir, pelan-pelan tubuh ini dimasukkan ke liang lahad, pipi mulai menyentuh tanah yang dingin tidak ada dipan mewah ataupun kasur empuk, tiada bantal ataupun selimut yang menghangatkan, hanya tanah dingin yang disebaliknya cacing-cacing, rayap dan makhluk kecil lain siap melumatkan jasad

Inilah hari yang dahsyat
Inilah malam yang dahsyat saat pertama kali kita bermalam dalam kubur.
Inilah pintu gerbang keabadian
Selamatkah……..? atau kebinasaan berkepanjangan…….?

Dalam kesendirian.

Benar-benar sendiri di barzakh.
Kita harus mempertanggung-jawabkan semua episode kehidupan
dari mulai baligh hingga datangnya Izroil, menjawab setiap pertanyaan dari penyidik Munkar dan Nakir
Tiada tempat lari
Tiada tempat meminta pertolongan.
Harta , jabatan dan pangkat yang selama ini diburu dan menjadi kebanggaan, hanyalah seonggok amanah yang membungkam di pelataran Hisab ILAAHI.

Tidak juga anak dan isteri yang kecintaannya begitu dekat dengan kita.
Isak tangis mereka tak sedikitpun mengubah keadaan
Isteri yang kita sayangi…….. rekan seiring dalam mengarungi samudera kehidupan, tempat berbagi dalam suka dan duka
Anak-anak yang kita cintai…. belahan jiwa tumpuan cita dan harapan.
Dimana hari-hari yang kita lewati, kita rela banting tulang, peras keringat untuk kebahagian dan kesuksesan mereka
Diantara lirih isak-tangisnya yang tulus, mereka tidak bisa berbuat banyak. tak dapat membantu kita
bahkan tak satupun diantara mereka yang rela menemani kita di malam pertama kita menginap di dalam kubur.

YA HAYYU….., YA QOYYUM…..!

Jika sampai ajalku
disaat malaikat maut mencabut ruhku
jadikanlah saat itu, saat dimana kami tenggelam dalam kekhusuan beribadah kepadaMu
Dalam puncak semangat menunaikan tugas suci yang KAU amanahkan
Dalam kesungguhan menegakkan RisalahMu dan meneladani sunnah NabiMu

YA ALLAH…..!

Cabutlah nyawa kami dalam keadaan ridho dan Engkau Ridhoi
telah menunaikan kewajiban kepada orang tua kami, yang jasa dan belaian kasih sayangnya tak mungkin terbalaskan
telah maksimal menunaikan haq anak-anak dan isteri kami, dalam nafkah, kasih-sayang dan sikap adil. Telah bersungguh-sungguh membisikan kedalam pikiran dan qolbu mereka untuk melanjutkan bengkalai perjuangan yang belum selesai. Menanamkan benih Ghuroba yang tak takut gertakan Firaun dan abu jahal

Telah menunaikan Haq saudara-saudara kami seiman. Saudara sejati yang haq-haqnya dalam jaminan FirmanMu yang Suci. Saudara yang telah rela berhimpun dalam kafilah para Rijal yang amalnya menorehkan bukti emas:

INNALLADZIINA YUBAYI`UNAKA INNAMA YUBAAYI`YNALLAH

YAA GHONI……!

Cabutlah nyawa kami dalam kondisi telah mampu melunasi hutang-hutang kami, yang akan memberatkan kami di hari hisab.
telah maksimal mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kebaikan umat Muhammad dan jamaah muslimin.

YAA ALLAH…….!!

Manakala tiba….
Hanya Belas-Kasih Mu yang kurindukan
masukkanlah kami kedalam golongan hamba yang dipanggil dalam Kitab-Mu yang Agung:

YAA AYATUHAN NAFSUL MUTHMAINNAH IRJI’I ILA ROBBIKI RODHIYATAN MARDHIYYAH
FADKHULII FII IBAADI, WADKHULII JANNATII.

 

YAA HAFIDZ… ihfadzna!

Janganlah KAU cabut nyawa kami dalam kondisi mendzolimi orang lain. Mencederai kehormatannya dan mengambil harta mereka tanpa haq
Janganlah KAU cabut nyawa kami YAA GHOFUR…, disaat kami tenggelam dalam kelalaian dan maksiyat.

AMIIN……, YAA MUJIBAS-SAA’ILIIN !



Baca juga :

Bagikan ini ke :

Leave a Reply